RIFANFINANCINDO | 12 Tahun Mengenang Munir

RIFANFINANCINDO – 12 Tahun Mengenang Munir

RIFANFINANCINDO BANDUNG – Tubuhnya kurus, kecil dan terkesan ringkih. Motornya pernah diserempet orang, dia juga sering dikirimi pesan singkat (SMS) bernada teror. Rumahnya pernah diancam akan dibom dan diratakan dengan tanah. Kantornya diserbu massa. Dia juga pernah ditodong senapan. Semua itu buah dari keberaniannya secara terang-terangan memprotes perilaku aparat militer dan pemerintah yang semena-mena terhadap hak asasi orang. Telinga tentara maupun polisi kerap panas memerah jika mendengar Munir Said bin Thalib berorasi.

Di balik keberanian dan lantangnya Munir mengkritik pemerintah, dia ternyata lelaki yang penuh cinta. Suciwati melihat banyak hal dalam diri Munir yang tidak ditemukan pada lelaki lain. Bukan fisik, tapi komitmen, pemikiran dan cara Munir memperlakukan buruh yang akhirnya membuat Suci jatuh hati. “Munir itu romantis. Pokoknya keren lah,” ujar istri Munir, Suciwati kepada merdeka.com di Jakarta, Kamis (8/9).

Peraih The Right Livelihood Award atau satu tingkat di bawah nobel ini sudah berpulang menghadap sang pencipta 12 tahun lalu, tepatnya 7 September 2004. Dia menghembuskan napas terakhir di dalam pesawat yang membawanya ke Belanda untuk melanjutkan studinya. Dia diracun Arsenik dengan dosis yang sanggup membunuh tiga orang. Racun itu ditaruh dalam minumannya. Sampai hari ini Suciwati terus menagih janji pemerintah mengusut tuntas dalang pembunuh suaminya. Salah satu cara merawat ingatan tentang Munir dengan menceritakan kisah hidup Munir yang tak banyak diketahui orang. Salah satunya sisi romantisme Munir.

Sisi romantisme Munir terekam jelas dalam ingatan Suciwati. Munir menunjukkan cintanya pada Suciwati dan kedua anaknya Soultan Alif Allende dan Diva Suukyi. Meski sibuk mengurus persoalan pelanggaran HAM di tanah air dan mengadvokasi buruh serta korban kekerasan, Munir tetap membangun ruang bersama istri dan kedua buah hatinya. Di saat itulah Munir menunjukkan sisi romantismenya kepada sang istri. Munir bukan tipe penggombal untuk meluluhkan hati wanita. Dia juga bukan tipe pria yang hobi memberi bunga. Munir punya cara sendiri menunjukkan rasa cinta pada wanita spesialnya.

“Setiap pagi begitu saya melek mata, dia selalu bilang ‘I Love U’. Setiap pagi selalu begitu. Dia suka meluk saya dari belakang. Kalau saya lagi masak, dia tiba-tiba meluk dari belakang. Buat saya, itu romantis. Kadang kalau dia bepergian, dia langsung kirim puisi. Keren lah,” kenang Suciwati.

Pertemuan dan perkenalan dengan Munir terjadi saat Suciwati aktif membela hak kaum buruh. Suciwati memilih meninggalkan profesinya sebagai guru SMA sekaligus mahasiswa IKIP, lalu menjadi buruh pabrik. Suci heran karena teman-teman buruhnya cerita kalau mereka selalu dipukuli. Setelah terjun langsung menjadi buruh pabrik, Suci mengorganisir dan memimpin aksi mogok buruh pada 1991.

Suci sempat ditangkap polisi karena memimpin aksi mogok kerja. Munir yang saat itu aktif di LBH, membantu mengadvokasi kasus yang menjerat Suci. Dari perkenalan itu, Munir banyak berdiskusi dengan Suci. Munir banyak bercerita persoalan yang mendera kaum buruh atau di ruang aktivis. Munir tidak pernah sekalipun mengungkapkan soal perasaannya pada Suci. Hingga akhirnya Munir menyatakan perasaannya pada Suci sekitar 1992.

Namun itu tidak dilakukan secara langsung. Munir punya cara sendiri sebelum bicara jujur soal perasaannya ke Suci. Awalnya Munir mengajak Suci berdiskusi soal hubungan antara lelaki dan perempuan. Munir bertanya pada Suci. “Kamu percaya cinta pandangan pertama,” ujar Suci menirukan kata Munir saat itu.

Meski ada cinta pada pandangan pertama, tapi bagi Suci secara pribadi tidak mempercayainya. “Saya sih bilang enggak percaya karena itu sama saja kita lihat fisik. Buatku enggak masuk akal karena cinta itu butuh proses,” kata Suciwati menjawab pertanyaan Munir.

Munir kembali bertanya pada Suci. “Bagaimana kalau ada teman yang datang ke rumahmu, mengajak makan, mengajak nonton, jalan, menurutmu itu pacarmu bukan?” tanya Munir.

Suciwati menjawab lugas. Selama orang tersebut tidak mengutarakan perasaannya cinta kepadanya, maka dia menganggap bukan pacar. Pacaran adalah sebuah kesepakatan bersama antara dua orang. Kesepakatan tentang perasaan yang sama. Tidak bisa hanya salah satu saja.

Sepekan setelah diskusi itu, Munir datang dan menjemput Suci di rumahnya. Di situlah Munir menyatakan perasaan terdalamnya. Suci terkejut mendengar pengakuan Munir. Melihat ekspresi Suci, Munir melarang Suci untuk langsung menjawab. Munir memberi waktu sepekan untuk Suci dan dirinya berpikir mengenai perasaan mereka masing-masing. “Tunggu satu minggu lagi, saya akan datang lagi dan memastikan bahwa perasaan saya memang betul-betul untuk kamu,” ujar Munir.

Munir menepati janjinya. Sepekan kemudian dia datang dan mengajak Suci makan bersama. Suci tahu betul saatnya tiba untuk memberi jawaban atas ungkapan hati Munir. Suci menjelaskan dan Munir mendengarkan tanpa menyela sedikitpun. Suci tidak ingin ungkapan perasaan Munir itu nantinya berbuntut pada kerja sama mereka dalam mendampingi kaum buruh. Apalagi jika nantinya mereka tidak mencapai pada titik untuk hidup bersama dalam rumah tangga. Jawaban Suci membuat Munir terkejut.

“Saya bilang sebetulnya saya pengen menolak, dia kaget juga. Karena kita bekerja di ruang sama, kerja mengorganisasi buruh, penyadaran buruh, saya enggak mau nanti mengganggu apa yang sedang kita dibangun.”

Lalu Suci melanjutkan. “Tapi saya juga punya perasaan yang sama seperti kamu,” ucap Suci pada Munir.

Akhirnya keduanya mencapai kesepakatan bersama. Menjalani dan membiarkan semua berjalan mengalir apa adanya. Waktu akan menjawab apakah mereka akan mencapai titik untuk hidup bersama atau tidak. Tapi satu hal, Suci meminta Munir tetap profesional bersamanya mengorganisir kaum buruh. Gaya mereka berpacaran pun terbilang lain daripada yang lain. Tidak selalu nonton, jalan atau makan bersama. Yang ada justru mereka berdua bersama-sama datang ke berbagai acara diskusi dan pergerakan kaum buruh. Pembicaraan keduanya dipenuhi persoalan buruh.

“Saya sama dia (Munir) seperti enggak pacaran. Karena ketemu di tempat diskusi. Antar jemput saya, gitu doang. atau kita ngobrol di kantor,” kata Suci sambil tertawa mengingat momen kebersamaan dengan Munir.

Waktu berjalan, hingga sampai pada titik di mana Munir mengutarakan keinginannya membangun rumah tangga bersama Suciwati. Sambil mengumpulkan serpihan kenangan masa lalunya, Suciwati bercerita beberapa kali menolak pinangan Munir. Seingatnya dua kali. Pertama kali Munir menyatakan keinginannya itu, Suciwati justru berpikir bahwa bekas aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu tengah bergurau. Kali kedua Munir menyatakan keinginannya melamar Suci, dia menolak dengan alasan belum siap. Sebab, mereka berdua selalu disibukkan dengan aktivitas mengurus kaum buruh. Akhirnya Suci dan Munir menikah pada 1996.

“Ada beberapa kali dia ajak saya nikah, tapi saya belum siap. Dia mungkin sedikit kesel. Tapi akhirnya perjalanan sampai satu titik akhirnya kami memutuskan oke kita sama-sama, satu hal syarat saya. Saya mau tetap jadi diri sendiri.” kenang Suci.

Setelah menikah dan punya anak, Munir dan Suciwati tetap punya waktu untuk berdua. Dalam seminggu, selalu ada satu hari yang mereka gunakan untuk pergi berdua. Entah itu nonton film, makan bersama, atau hanya sekadar berjalan-jalan. Suci bersyukur dipertemukan dengan sosok Munir. Meski waktunya bersama pendiri KontraS itu terbilang singkat, semua sangat berarti.

IT RFB BDG