Awal Pekan, IHSG Lanjutkan Penguatan

PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini dibuka menguat melanjutkan tren positif akhir pekan kemarin. Pasar saham Tanah Air hari ini dibuka menguat 11,39 poin atau 0,24% ke level 4.846,54 di tengah menguatnya bursa saham Asia.

Sementara, IHSG pada perdagangan kemarin ditutup bertambah naik 20,75 poin atau 0,43% ke level 4.835,14 di tengah kebangkitan mayoritas bursa Asia.

Dilansir Reuters, Senin (20/6) bursa saham Asia pada awal pekan ini tercatat menguat setelah mendapatkan dorongan seiringnya meningkatnya ekpektasi bahwa Inggris akan tetap bertahan di Uni Eropa dalam referendum, 23 Juni mendatang. Kondisi ini juga menjadi sentimen positif dan mengangkat pounds terhadap beberapa mata uang utama lain.

Sementara indeks MSCI untuk saham Asia-Pasifik di luar Jepang tercatat naik tipis 0,4%. Di sisi lain indeks NikkeI Jepang melonjak 1,5% dibantu penguatan yen, sedangkan saham Australia bertambah 0,3% dan indeks Kospi Korea Selatan juga menguat 1,23% atau 23,93 poin ke level 1.977,33.

Selain itu, penguatan juga terjadi pada mayoritas bursa utama Asia seperti indeks Hang Seng yang bertambah 184,99 atau 0,92% ke level 20,354.97 diikuti bursa saham Straits Times dengan kenaikan 24,39 poin atau 0,88% ke level 2.787,81. Di sisi lain indek Shanghai juga meraih hasil positif lewat kenaikan 0,03% ke level 2.885,89.

Melemahnya kekhawatiran terkait rencana keluarnya Inggris dari Uni Eropa alias Brexit, menjadi momentum kebangkitan pasar saham. Jejak pendapat diyakini menunjukkan keanggotaan referendum memilih Inggris untuk tetap bertahan, meski belum ada gambaran secara keseluruhan.

Brexit menjadi fokus para pelaku pasar saham dalam beberapa pekan terakhir, dan kini sedikit mereda saat refendum diberhentikan selama tiga hari terimbas penembakan salah satu anggota parlem Inggris yakni Jo Cox.

Mayoritas sektor saham dalam negeri bergerak variatif. Sektor dengan penguatan tertinggi adalah sektor pertambangan yang naik 1,00%. Di sisi lain sektor yang melemah terdalam adalah sektor keuangan dengan penurunan 0,34%.

Tercatat, nilai transaksi di bursa Indonesia tercatat sebesar Rp 403 miliar dengan 527 juta saham diperdagangkan dan transaksi bersih asing minus Rp 22,7 miliar dengan aksi jual asing mencapai Rp111,1 miliar dan aksi beli sebesar Rp 88,3 miliar. Tercatat 115 saham menguat, 53 saham melemah dan 74 saham stagnan.

Beberapa saham-saham yang menguat di antaranya PT Inti Bangun Sejahtera Tbk. (IBST) naik Rp 340 menjadi Rp 2.700, PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) menguat Rp 250 menjadi Rp 19.500 dan PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) bertambah Rp 200 menjadi Rp 63.550.

Beberapa? saham yang melemah di antaranya PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menyusut Rp 125 menjadi Rp 12.775, PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) melemah Rp 60 menjadi Rp 3.420 dan PT Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk. (MREI) berkurang Rp 50 menjadi Rp 6.200.

Sebagai informasi, Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Juda Agung memproyeksikan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II- 2016 berada pada kisaran 4,9 -5% atau sedikit menurun dari angka perkiraan sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi triwulan II, perkiraan awal sedikit diatas lima persen, tapi assessment terakhir 4,9-5%.? Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2016 diproyeksikan membaik dibandingkan angka pencapaian pada triwulan sebelumnya, namun tidak sekuat perkiraan awal.

Pertumbuhan masih akan didukung oleh konsumsi rumah tangga yang diperkirakan meningkat seiring dengan peningkatan penjualan eceran menjelang lebaran yang didukung oleh pencairan THR. Namun, kontribusi dari investasi nonbangunan belum menunjukkan kinerja menggembirakan dan memperlihatkan perbaikan yang signifikan, meskipun realisasi belanja modal diperkirakan terus meningkat.

Dsisi eksternal, ekspor diperkirakan masih tumbuh terbatas, walaupun ekspor beberapa komoditas mulai mengalami peningkatan.? Bank Indonesia memandang berbagai langkah masih diperlukan untuk meningkatkan permintaan domestik guna memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi.

Meskipun perekonomian pada triwulan II- 2016 diproyeksikan tumbuh melambat, secara keseluruhan pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun masih diperkirakan pada kisaran 5,0 -5,4% (yoy).

Sebagai antisipasi terhadap perlambatan ekonomi, BI telah melakukan pelonggaran kebijakan moneter maupun makroprudensial untuk mendorong permintaan kredit dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.

Bauran kebijakan tersebut sejalan dengan penilaian Dewan Gubernur BI bahwa stabilitas makroekonomi terus berlanjut, yang tercermin dari inflasi yang rendah, defisit transaksi berjalan yang terkendali dan nilai tukar yang relatif stabil.

 

IT RFB BDG