Harga Emas Was-was Dekati Akhir Pekan

RIFAN FINANCINDO – Harga Emas Was-was Dekati Akhir Pekan

RIFAN FINANCINDO BANDUNG – Mendekati akhir pekan, harga emas diperdagangkan menguat dari harga termurahnya dalam dua bulan ini. Secara mengejutkan, aktifitas manufaktur Amerika Serikat menurun. Indikator ekonomi ini memberikan sentimen positif bagi kebangkitan harga emas kali ini.

Pada perdagangan Kamis (01/09/16) Dolar AS mendapat tekanan paska data ekonomi ini diumumkan. Ini memberikan sedikit ruang bagi kemungkinan Bank Sentral AS untuk menunda menaikkan suku bunga dalam pertemuan mereka pada bulan ini. Para pialang kembali menitikberatkan perhatian mereka pada indikator ekonomi lain yang dianggap lebih besar pengaruhnya. Data kondisi dunia kerja AS dari indikator payroll yang akan diterbitkan pada Jumat ini telah dinanti pelaku pasar.

Sebelumnya, harga emas berjangka diperdagangkan mendekati harga termurahnya dalam dua bulan ini. Jatuhnya harga emas ini terjadi setelah akhir perdagangan bulan Agustus ditutup dalam posisi merugi. Untuk pertama kalinya sejak bulan Mei harga emas berakhir turun. Penurunan harga emas kali ini didukung sentimen indikator ekonomi Amerika Serikat. Lapangan kerja Amerika Serikat, diperkirakan membaik. Pasar mengkaitkan tren positif ini dengan kemungkinan sikap Bank Sentral Amerika Serikat untuk menaikkan suku bunga. Kenaikan suku bunga AS akan meluruhkan daya pikat emas sebagai tujuan investasi.

Sepanjang bulan Agustus, harga emas dipasar spot mengalami penurunan 3%. Ini merupakan harga termurah yang dicapai oleh Emas semenjak Inggris menyatakan keluar dari Uni Eropa pada Juni kemarin. Harus diakui bahwa sentimen penggerak harga emas kali ini adalah isu suku bunga AS, dengan mengacu pada berbagai indikator ekonomi AS. Kondisi lapangan kerja AS diperkirakan membaik, mengaca pada data ADP. Data ADP ini merujuk dunia kerja di sektor swasta yang sudah diterbitkan kemarin, indikasinya membaik.

Asumsi membaiknya perekonomian Amerika Serikat semakin membuka peluang bagi The Federal Reserve untuk memutuskan kenaikan suku bunga. Terlebih pada bulan September ini, dijadwalkan pertemuan rutin Bank Sentral. Kekhawatiran pelaku perdagangan emas bahkan berlebihan hingga terpikirkan suku bunga akan dinaikkan sebelum bulan ini berakhir. Tak heran jika harga emas mendapat tekanan hebat kali ini.

Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat pada hari Jumat dijadwalkan akan menerbitkan data ini. Diperkirakan akan ada setidaknya 185 ribu pekerjaan di bulan Agustus, termasuk penyerapan kerja oleh Pemerintah. Sebelumnya, pada hari Kamis ini ada data mengenai jumlah rakytat AS yang menyatakan pengangguran dan meminta jaminan sosial. Angkanya pada minggu lalu naik sebesar 2.000 menjadi 263.000. Meski mengalami kenaikan, namuan angka pemutusan kerja masih rendah, bahkan mendekati angka sebagaimana masa sesudah resesi ekonomi menghantam AS. Artinya pasar tenaga kerja AS mengalami pertumbuhan yang menjanjikan. Pun demikian, data ekonomi lainnya menunjukkan pemangkasan dilakukan pada angkatan kerja produktif dan pekerja dengan upah tinggi.

Harga emas pada perdagangan berjangka berakhir naik dalam perdagangan hari ini di bursa NYMEX, sebesar $5,70 atau naik 0,4% ke harga $1.317,10 per ons. Sehari sebelumnya, harga emas berakhir di harga $1.311,40 per ons. Ini merupakan harga termurahnya sejak kontrak ini aktif mulai 23 Juni silam. (Lukman Hqeem)

sumber : vibiznews.com

IT RFB BDG