Harga Minyak Mentah Jatuh

PT RIFAN FINANCINDO – Harga Minyak Mentah Jatuh

PT RIFAN FINANCINDO BANDUNG – Harga minyak mentah tergelincir pada akhir perdagangan hari Senin di Amerika Serikat, mencapai posisi terendah dua bulan, tertekan oleh berbagai sentimen kekenyangan produksi yaitu meningkatnya pasokan Kanada dan jumlah kilang minyak AS yang lebih tinggi.

Ratusan ribu barel minyak mentah baru telah mulai tiba di Alberta wilayah pasir minyak, Kanada, memenuhi pipa setelah produksi pulih dari kebakaran hutan yang melumpuhkan produksi dua bulan yang lalu

Meningkatnya produksi Kanada menekan harga meskipun para pedagang mengatakan data dari perusahaan intelijen pasar Genscape menunjukkan penarikan 488.625 barel pada pusat pengiriman di Cushing, Oklahoma untuk minyak mentah berjangka Amerika Serikat selama seminggu hingga 8 Juli.

Juga mendorong harga minyak mentah, data pada hari Jumat menunjukkan jumlah kilang minyak AS naik pekan lalu untuk kelima kalinya dalam enam minggu. Pengajuan kebangkrutan perusahaan minyak AS pada bulan Juni mencapai terkecil untuk tahun ini, data menunjukkan. Kedua faktor tersebut memicu pengebor memproduksi lebih banyak minyak mentah.

Harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) berakhir anjlok 1,43 persen, atau 65 sen, pada $ 44,76 per barel, menetap terendah sejak 10 Mei. Selama sesi, WTI mencapai titik terendah dua bulan pada $ 44,53.

Sedangkan harga minyak mentah berjangka Brent diperdagangkan pada $ 46,21 per barel pada 14:41 ET, turun 4 sen setelah terjatuh ke sesi rendah $ 45,90, terendah sejak 11 Mei.

Harga minyak mentah sebagian besar turun sejak perdagangan dimulai di Asia pada Senin karena penyuling di wilayah yang memotong kembali pesanan minyak mentah karena kekhawatiran perlambatan ekonomi.

Iran menetapkan harga jual resmi kelas ringan untuk Asia pada 45 sen di atas rata-rata Oman / Dubai untuk Agustus, yang merosot 40 sen pada bulanan.

Minyak mentah berjangka menahan kerugian dari posisi terendah sesi setelah indeks S & P 500 pada bursa Wall Street mencapai rekor tinggi, bereaksi terhadap sentimen bullish pekerjaan Amerika Serikat bulan Juni yang dilaporkan hari Jumat yang menekan kepercayaan dalam perekonomian.

Minyak mentah juga menahan kerugian pada laporan bahwa pipa Trans-Niger Nigeria, digunakan untuk mengekspor minyak mentah Bonny Light, telah ditutup untuk alasan yang tidak diketahui.

Goldman Sachs mengatakan bahwa pihaknya memperkirakan ?minyak WTI untuk tetap dalam kisaran $ 45-50 per barel selama 12 bulan ke depan?.

Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan pada hari Minggu bahwa pasar minyak menjadi lebih seimbang dan sebagai hasilnya adalah harga yang stabil.

Namun, tanda-tanda perlambatan ekonomi menekan. Di Jepang, pesanan mesin inti tak terduga turun 1,4 persen pada Mei dari bulan sebelumnya, turun untuk bulan kedua berturut-turut, data pemerintah menunjukkan Senin.

Di tempat lain, pertumbuhan ekonomi Tiongkok kemungkinan didinginkan ke tujuh tahun rendah 6,6 persen pada kuartal kedua, menurut jajak pendapat Reuters dari 61 ekonom, terlemah dalam tujuh tahun.

Meskipun demikian, penjualan kendaraan melonjak 14,6 persen menjadi 2,1 juta unit pada bulan Juni dibandingkan dengan tahun lalu, menurut China Association of Automobile Manufacturers.

Analyst Vibiz Research Center memperkirakan harga minyak mentah pada perdagangan selanjutnya berpotensi menurun dengan sentimen kekenyangan produksi. Perlu juga dicermati pergerakan dollar AS dan ekonomi dunia yang dapat mempengaruhi harga minyak mentah. Harga diperkirakan akan menembus kisaran Support $ 44,30- $ 42,80, dan jika harga merangkak akan menembus kisaran Resistance? 45,30 ? $ 45,80.

 

sumber : vibiznews.com

IT RFB BDG