Keamanan vs Kenyamanan: WhatsApp, BBM dan Telegram

RIFAN FINANCINDO – Keamanan vs Kenyamanan: WhatsApp, BBM dan Telegram

RIFAN FINANCINDO BANDUNG – Ada tiga aplikasi messaging yang banyak digunakan pada smartphone dan tablet berbasis Android dan iOS di Indonesia maupun dunia, yaitu BBM (BlackBerry Messager), Whatsapp, dan Telegram.

Mereka bertiga bersaing untuk memperebutkan pangsa pasar. Berdasarkan data unduhan akun pengguna dari Google Play, tidak dapat disangkal bahwa WhatsApp merupakan aplikasi messaging yang paling banyak digunakan di dunia. Hanya saja, apakah WhatsApp sudah memenuhi seluruh kebutuhan user yang bisa jadi sangat beragam?

Sebagai produk andalan dari Kanada, dahulu BBM hanyalah eksklusif terintegrasi dengan gadget Blackberry. Eksklusifitas ini yang menjamin keamanan aplikasi tersebut.

Sejalan dengan penurunan pasar gadget BlackBerry, BBM diport ke platform Android dan iOS. Walaupun pemakainya tetap banyak, akan tetapi BBM mulai ditinggalkan user karena aspek ekslusifitasnya sudah hilang sama sekali sejalan dengan berubahnya BBM menjadi multi-platform.

‘Ledakan’ calon pembeli yang mengantre gadget Blackberry terbaru di Tanah Air akhirnya menjadi kenangan yang berlalu, sejalan dengan berjayanya gadget berbasis Android dan iOS. BBM memang masih banyak penggunanya terutama karena aspek nostalgia yang kental.

WhatsApp dibuat oleh Brian Acton dan Jan Koum dari Amerika Serikat, dan dirilis pada tahun 2010. WhatsApp sangat mudah digunakan, sehingga tentu saja hal tersebut menyebabkan banyaknya pengguna aplikasi tersebut.

Namun dalam konteks privasi mulai dipertanyakan. Kabar bahwa Whatsapp memberikan nomor telpon pengguna kepada Facebook, perusahaan hostnya, menjadikan aspek sekuriti aplikasi tersebut berada dalam pertanyaan besar. Whatsapp memiliki versi peramban untuk Linux, Mac, dan Windows.

Tetapi jika koneksi ponsel terputus, versi peramban tidak bisa digunakan. WhatsApp juga mencoba mengejar ketertinggalannya dari Telegram, yaitu memperkenalkan enkripsi end-to-end.

Akan tetapi, Whatsapp memang tidak didesain untuk power user, sehingga memang mereka tidak memperkenalkan tools atau fitur yang sangat advanced pada pengembangan aplikasinya. Jika ingin membahas sesuatu yang sangat rahasia (top secret) dan privasi, sebaiknya jangan menggunakan whatsapp.

Telegram dibuat oleh Nikolai dan Pavel Durov dari Rusia, dan dirilis tahun 2013. Telegram memang tidak terlalu mudah digunakan, karena memang didesain untuk power user. Akan tetapi, keamanan aplikasi tersebut lebih terjamin.

Sampai sekarang, pemerintah Rusia melarang Telegram mendirikan server di negara tersebut, karena tidak bisa dikontrol dan diakses oleh pihak intelejen mereka. Oleh karena itu, pihak Telegram terpaksa membuka kantor pusat mereka di Berlin, Jerman.

Karena keamanannya sangat terjamin, kelompok teroris seperti ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) menyalahgunakan pemakaian Telegram. Mereka tidak mungkin menggunakan WhatsApp, karena mudah diretas.

Satu hal yang harus diperhatikan, infiltrasi ISIS ke Telegram bukan membuktikan bahwa keamanan Telegram lemah, justru sebaliknya. Itu membuktikan kekuatan Telegram sebagai aplikasi messaging dengan enkripsi yang mumpuni, sehingga menjadi pilihan utama mereka.

Namun pihak Telegram membuka diri untuk bekerja sama dengan aparat keamanan dan intelejen negara manapun untuk menutup kanal diskusi para teroris tersebut. Telegram memiliki versi peramban dan desktop untuk Linux, Mac, dan Windows.

Hanya, perbedaannya dengan Whatsapp, jika koneksi ponsel terputus, aplikasi desktopnya tetap bisa dijalankan dengan sangat baik selama masih ada koneksi internet.

Telegram juga terkenal sangat handal untuk mengirim file dalam jumlah dan ukuran besar. Sampai sekarang, Telegram tidak mengizinkan iklan maupun biaya langganan.

Fitur ‘Secret Chats’, dimana pesan dapat menghapus dirinya sendiri dari gadget/komputer yang berpartisipasi, merupakan hal yang sangat disukai mereka yang khawatir akan masalah sekuriti.

Grup Telegram bisa memiliki member sampai 5.000 akun. Melihat begitu banyaknya fitur Telegram, memang bisa dibilang jika tidak memahami pemakainnya, semua akan mubazir. Sebaiknya tetap gunakan whatsapp jika fitur-fitur advanced Telegram tersebut tidak digunakan dengan baik.

Dengan semakin menurunnya peran BBM, maka user mendapatkan dua pilihan aplikasi Messaging pada gadget masing-masing. Yaitu Whatsapp dan Telegram.

Menurut informasi Google play, memang pemakai Whatsapp masih sangat besar karena sudah diunduh oleh 1 miliar akun pengguna. Sementara Telegram cukup sekitar 100 juta akun pengguna.

Akan tetapi, power user mulai menggunakan Telegram secara intensif. Kelebihannya untuk menggunakan sticker besar dan menarik, preview group, dan pengembangan sistem awan (cloud) menjadikan Telegram semakin ‘sexy’ pagi power user.

Justru ke depannya, setelah suksesnya infiltrasi teroris ISIS, Telegram akan menjadi ‘virtual battleground’ bagi peretas dari seluruh dunia untuk memperjuangkan kepentingan ekonomi dan politiknya masing-masing. Telegram akan selalu menjadi pilihan utama clandestine operation (Operasi Bawah Tanah) karena memiliki fitur yang sangat costumizable.

Menariknya, medan pertempuran tersebut akan terjadi tanpa mempengaruhi pengguna yang tidak terlibat. Hal tersebut terlihat bahwa selama ISIS melakukan infiltrasi, Telegram tetap bisa digunakan seperti biasa tanpa gangguan berarti.

Di era media sosial, dimana aplikasi maupun web tools milik Facebook, Twitter, dan instagram menjadi pilihan berkomunikasi utama bagi pengguna, maka aplikasi messaging harus memberikan fitur yang berbeda dengan media sosial, namun tetap memberikan added value yang setara.

Whatsapp ‘memberanikan diri’ untuk mensinkronisasikan fitur-fiturnya dengan aplikasi Facebook, namun hal ini membuat power user kurang nyaman karena masalah privasi. Telegram harus mencari strategi yang lebih aman untuk menjangkau pengguna media sosial.

Analogi yang bisa digunakan untuk membandingkan Telegram dengan Whatsapp bisa seperti Linux dengan Windows. Satu hal yang seyogyanya kita perhatikan, sebagus-bagusnya Facebook maupun media sosial lain mengembangkan aplikasi messaging sendiri, fitur mereka tidak akan sebaik aplikasi yang dedicated, karena fungsi mereka tidak lebih dari peralatan pendukung atau auxilliary tools.

Di sini, dapat terlihat bahwa aplikasi messaging turunan dari media sosial tidak akan pernah menggeser apalagi menggantikan aplikasi messaging yang dedicated seperti Whatsapp dan Telegram.

Pasar messaging sudah terbagi dengan sangat jelas, dimana Whatsapp mendominasi pangsa pasar end user, sementara Telegram telah berhasil menancapkan kukunya pada pangsa pasar power user.

Dan memang akhirnya konsumen yang mendapatkan keuntungan paling besar, karena mendapatkan aplikasi terbaik untuk keperluan mereka masing-masing.

sumber : inet.detik.com

IT RFB BDG