Paska BREXIT,KetidakTentuan Tak Terbatas

RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Paska keluarnya Inggris (BREXIT) dari Uni Eropa lewat referendum pada 23 Juni kemarin, pasar memasuki fase ketidak tentuan yang tak terbatas. Besarnya kekhawatiran pelaku pasar diminggu terakhir bulan Juni ini membuat aksi beli atas Emas dan aset pengaman investasi (safe haven) lainnya meningkat. Para pialang dari bursa New York hingga London kini yakin harga emas bisa mencapai ke $1.424, tertinggi sejak Agustus 2013.

FINANCEROLL ? Harga emas masih diperdagangkan cukup tinggi, dikisaran $1.326 per troy ons. Sebagai aset pengaman yang paling diburu investor, harga emas sempat terkerek naik hingga $1.358,54 pada perdagangan hari Jumat (24/06/2016). Ini merupakan harga tertinggi sejak Maret 2014. Kenaikan harga emas dalam satu hari transaksi mencapai 8,1% dan tercatat sebagai yang paling tinggi loncatannya sejak 2008. Kenaikan harga emas saat ini memperpanjang kenaikan harga emas sepanjang tahun ini, naik sebesar 25%.

Disisi lain, dampak dari BREXIT membuat nilai tukar Poundsterling terkoreksi tajam. Poundsterling jatuh pada posisi terendah dalam tiga puluh tahun terakhir ini, terendah sejak 1985. Sebagian besar pertanyaan yang sebelumnya menjadi kebimbangan pasar, saat ini adalah telah terjawab. Meski demikian, masa depan mata uang ini masih buram. Pada perdagangan awal minggu ini, Sterling terkoreksi kembali sebesar 1,7% ke $1,3445. Melanjutkan koreksi pada Jumat lalu sebesar 8,1%. Jatuhnya Poundsterling ini dua kali lipat dalamnya dibandingkan saat Black Wednesday Pada 1992 yang hanya 4,1%. Black Wednesday merupakan peristiwa keluarnya Inggris dari mekanisme mata uang tunggal Eropa, EURO.

Kini para investor memasuki bulan-bulan dengan penuh ketidak pastian. Paska BREXIT masih dibahas lebih lanjut mengenai mekanisme dan syarat-syarat keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Parahnya, ditengah kondisi seperti ini, Perdana Menteri David Cameron telah mengundurkan diri. David Cameron memang sejak awal berada di kelompok yang menginginkan Inggris tetap tinggal dalam Uni Eropa, BREMAIN. Kekalahan dalam pemungutan suara langsung tersebut diikuti dengan keputusannya mengundurkan diri. Inggris bukan hanya menghadapi masalah dipuncak pimpinan pemerintahan saja. Geopolitik nasional akan menghangat. Sejak awal wilayah Skotlandia sudah memberikan peringatan bahwa jika Inggris memutuskan keluar dari Uni Eropa, mereka juga ingin keluar dari Inggris Raya.

Pasar melihat potensi kekacauan masih akan terjadi. Sejauh ini gambaran yang paling dekat adalah jatuhnya Poundsterling masih akan terjadi. Sejauh ini bahkan diyakini masih separuh jalan jatuhnya. Kondisi ini tentu saja akan membuat ketidak tentuan semakin kuat dan Emas akan kembali menjadi tumpuan investor. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA

 

IT RFB BDG