Hastry, Polwan yang Bertugas Tentukan Titik Bidik Eksekusi Mati

RIFAN FINANCINDO – Hastry, Polwan yang Bertugas Tentukan Titik Bidik Eksekusi Mati

RIFAN FINANCINDO BANDUNG – Eksekusi mati yang sudah dilakukan beberapa kali di Indonesia tepatnya di Nusakambangan, Cilacap, ternyata tidak lepas dari seorang Polwan bernama AKBP Sumy Hastry Purwanti. Dokter ahli forensik tersebut memiliki beberapa tugas saat eksekusi mati, salah satunya memasang titik bidik tembak di tubuh terpidana mati.

Hastry kini menjabat sebagai Kepala Subbidang Kedokteran Polisi Polda Jawa Tengah dan sudah dikenal di dunia forensik kepolisian tingkat nasional maupun internasional berkat keahliannya. Oleh sebab itu Hastry menjadi satu-satunya Polwan yang dipercayai mengemban tugas saat eksekusi mati.

“Sudah enam kali eksekusi mati, sejak tahun 2008,” kata Hastry saat ditemui detikcom di ruang kerjanya, RS Bhayangkara, Jl Majapahit, Semarang, Kamis (1/9/2016).

Salah satu tugas yang diemban yaitu memasang titik bidik tembak seperti stiker tepat di dada terpidana mati yang sudah berada di tiang dan mengenakan busana serba putih. Stiker berwarna hitam yang ditempel Hastry menunjukkan lokasi jantung agar eksekusi yang dilakukan anggota Brimob tepat sasaran.

“Jadi ada yang nyenterin (memberikan cahaya memakai lampu senter) soalnya lokasi itu gelap gulita, pasang titik tembak, diperiksa dulu jantungnya di mana. Mereka (terpidana) pakai baju putih,” ujar Hastry.

Tugas Hastry ini penting karena membuat tugas eksekutor berjalan sesuai prosedur. Usai tembakan eksekusi, Hastry harus kembali mendekat ke para terpidana untuk menentukan apakah mereka sudah meninggal atau masih bernyawa.

“Saya juga memastikan apakah terpidana sudah meninggal atau belum,” tegasnya.

Tugasnya tidak hanya sampai di situ, bersama dokter laki-laki lainnya, Hastry memandikan jenazah, dan jika ada yang hendak dikirim ke luar negeri maka akan diberikan formalin seperti permintaan keluarga.

“Kita bawa jenazahnya, kita mandikan. kalau mau dibawa ke luar negeri ya kita beri formalin, sesuai keinginan keluarga terpidana,” pungkas Hastry.

Sebagai dokter, Hastry juga bertugas memeriksa kesehatan para terpidana mati sebelum dieksekusi. Detik-detik sebelum eksekusilah yang dirasa Hastry cukup mencekam, karena meskipun mereka orang-orang yang divonis bersalah karena tindak kejahatan, tetap saja Hastry merinding ketika mendengar mereka berdoa menunggu ajalnya.

“Ya memang bikin ngenes, sebelum dieksekusi saat mereka berdoa. Saat memasangkan titik tembak, kepala mereka ditutup tapi terdengar mereka berdoa,” ujar lulusan University Groningen itu.

Dia memang memiliki pengalaman segudang di dunia forensik. Namun Hastry ternyata tidak pelit ilmu, kepada masyarakat umum ia sudah mencurahkan ilmu dan pengalamannya ke dalam tiga buku dan mengajar di perguruan tinggi.

sumber : news.detik.com

IT RFB BDG