RFB | Seberapa Aman Pemindai Iris?

PT RIFAN FINANCINDO – Seberapa Aman Pemindai Iris?

PT RIFAN FINANCINDO BADNUNG – Samsung akhirnya resmi memperkenalkan perangkat flagship terbaru mereka, Samsung Galaxy Note 7, dan membekalinya dengan teknologi pemindai iris mata. Namun, sejauh manakah keamanan dari teknologi sensor biometrik ini?

Menanggapi perihal keamanan teknologi yang mulai dipergunakan oleh banyak vendor teknologi, Principal Security Researcher, Kaspersky Lab David Emm memberikan opininya.

“Pemberitaan bahwa teknologi terbaru iris scanner dari Samsung Galaxy Note 7 menandai langkah berikutnya dalam teknologi biometrik, dimana sekarang ini para vendor teknologi mengklaim bahwa sensor biometrik dapat meningkatkan baik itu dari sisi pengalaman dan keamanan dari pengguna perangkat mobile,” kata David.

“Namun pada kenyataannya adalah dengan semakin meningkatnya penggunaan teknologi biometrik maka akan muncul kebutuhan dari sisi keamanan yang lebih tinggi lagi,” lanjutnya dalam keterangan tertulis yang diterima detikINET, Jumat (5/8/2016).

Sebagai contoh, tidaklah sulit untuk mengkompromikan biometrik milik orang lain, seperti scan sidik jari dan iris mata, bahkan hal tersebut dapat dilakukan dari jarak jauh.

Sebuah spesialis biometrik dari Jerman Jan Krisller, yang menjadi terkenal dengan aksi peretasan Apple TouchID, baru-baru ini menemukan cara untuk menyalin iris dan sidik jari dari foto beresolusi tinggi.

Lebih lanjut, biometrik juga memiliki kebutuhan untuk mempertahankan basis data biometrik yang besar serta informasi pribadi dari pengguna.

Oleh karena itu, setiap pelanggaran keamanan yang mengakibatkan kebocoran informasi ini bisa memiliki konsekuensi yang jauh lebih serius daripada pencurian. Misalnya password, dan bagaimanapun juga, kita bisa mengubah password yang lemah, tetapi kita tidak bisa mengubah scan sidik jari atau iris yang berhasil dikompromikan.

David menambahkan, selama beberapa tahun ke depan kita hanya bisa menduga bahwa penggunaan teknologi biometrik ini akan semakin luas dan menjadi respons terhadap permasalahan keamanan yaitu penggunaan metode otentikasi yang ada saat ini – seperti bahaya yang melekat pada password yang lemah dan/atau re-cycle.

Pada saat yang sama, kita juga berharap untuk melihat tren biometrik ini mengalami peningkatan – khususnya dalam pengembangan bio-hack.

“Jelas, biometrik bukanlah obat mujarab bagi masalah keamanan. Pada akhirnya, otetifikasi multi-faktor menjadi penting ? artinya gunakan biometrik bersama dengan password atau cara lain untuk memverifikasi identitas Anda,” jelas David.

“Ini berarti menggabungkan lebih dari satu item baik itu sesuatu yang Anda tahu, sesuatu yang Anda miliki dan sesuatu yang ada pada diri Anda untuk memverifikasi identitas Anda,” tandasnya.

 

sumber : inet.detik.com

IT RFB BDG