Senin Siang, Rupiah Menguat ke Posisi Rp 13.434/ USD

PT. RIFAN FINANCINDO BERJANGKA – Laju nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menjelang istirahat siang Senin (6/6), masih cukup kuat bergerak di zona hijau. Rupiah tercatat menguat sebesar 161 poin atau bertambah 1,18% ke kisaran Rp 13.434 per dolar AS.

Kurs rupiah pagi ini dibuka di kisaran Rp 13.463 per dolar S. Sedangkan, pergerakan rupiah siang ini berada di rentang Rp 13.434-Rp 13.509 per dolar AS. Sementara itu, kurs tengah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dikeluarkan Bank Indonesia, Senin (6/6) berada di level Rp 13.478 per dolar AS.

Kembali menguatnya laju harga minyak mentah memberikan sentimen positif pada laju pasar komoditas sehingga dapat kembali berada di zona hijau.? Harga minyak mentah yang sebelumnya sempat melemah seiring hasil pertemuan OPEC yang gagal sepakat untuk mengurangi output produksi terimbangi dengan turunnya hasil produksi AS.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mulai mengawasi risiko kenaikan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) secara bertahap. Pengawasan dilakukan tidak hanya kepada bank dengan status kolektibilitas 3 (kurang lancar) hingga 5 (macet), melainkan juga bank dengan status kolektibilitas 1 (lancar) dan 2 (dalam perhatian khusus).

Sementara itu, Nelson Tampubolon, Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan OJK memastikan, wasit industri keuangan akan mengawasi risiko kenaikan NPL bank.

Sebelumnya, proyeksi lembaga pemeringkat kredit Standard and Poor?s (S&P) menyebut kekhawatiran akan kinerja perbankan dalam negeri. Kenaikan NPL disumbang oleh peningkatan rasio kredit berstatus dalam oerhatian khusus (special mention) menjadi kredit kurang lancar serta kredit dengan status diragukan hingga macet.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Menurut S&P, kekhawatiran tersebut didasari oleh dampak perlambatan ekonomi global yang kemudian berimbas pada daya beli masyarakat dan kemampuan nasabah dalam membayar angsuran kreditnya.

Status kredit special mention adalah kondisi di mana pembayaran tagihan kredit belum dilakukan hingga 90 hari setelah jatuh tempo. Dalam kondisi ini, bank dapat mengenakan biaya administrasi, seperti biaya keterlambatan, mengenakan bunga lebih tinggi, melaksanakan upaya penagihan, membatalkan fasilitas kredit atau menagih sisa cicilan tetap yang belum tertagih dan dibayar secara penuh.

Berdasarkan catatan OJK, pada kuartal I 2016, NPL industri perbankan rata-rata naik menjadi 2,8 persen dari posisi akhir tahun lalu di level 2,7 persen.

Meski demikian, Nelson optimistis, perbankan mampu mengatasi rasio NPL yang berpotensi membengkak ke depan. Optimisme ini berangkat dari upaya bank dalam membentuk unit khusus untuk mengatasi kredit bermasalah. Unit khusus ini bekerja tidak hanya untuk menangani kredit bermasalah, tetapi juga mengendalikan risiko kenaikan NPL.

Peningkatan rasio NPL yang menggerogoti kinerja perbankan juga dialami PT Bank Mandiri Tbk. Per 31 Maret 2016, NPL gross bank pelat merah ini tercatat sebesar 2,89 persen atau naik 100 basis poin (bps) dari periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 1,81 persen.? Bank Permata juga membukukan NPL yang tinggi. Rasio NPL gross bank yang terafiliasi dengan PT Astra International Tbk tersebut naik menjadi 3,48 persen per Maret 2016 dibandingkan posisi per Maret 2015 di level 1,62 persen.

 

sumber : financeroll.co.id

 

IT RFB BDG