3

Terhimpit di antara beton sempit

RIFANFINANCINDO – Terhimpit di antara beton sempit

RIFANFINANCINDO BANDUNG – Terpal biru berjajar menutupi pipa saluran air milik Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Beberapa lelaki bertatoo hilir mudik di atas jembatan beton yang menghubungkan sekaligus menjadi penyangga dua buah pipa air berwarna biru itu.

Tina (30) sibuk menjemur beberapa potong pakaian miliknya di bawah sinar matahari yang cukup terik siang itu, Jumat (22/7). Sudah lebih dari dua tahun Tina menjadi warga ‘perumahan’ yang letaknya di bawah jembatan air PDAM. Selain Tina, ada lebih kurang dua puluh orang yang juga bermukim di sana. Mereka hidup berhimpitan di antara beton-beton jembatan penyangga pipa PDAM.

Di bawah jembatan sepanjang lebih kurang 20 meter itu, ada denyut kehidupan manusia-manusia terpinggirkan yang umumnya warga pendatang. Mereka menjalankan aktivitas secara serabutan. Ada yang setiap hari memulung barang bekas, menjadi kuli panggul, pengamen jalanan, pedagang kaki lima, hingga preman. Ruang sempit berukuran 3×2 meter dengan tinggi tidak lebih dari 1 meter, cukup untuk melindungi diri dari teriknya matahari, derasnya hujan dan dinginnya angin malam. Beton berbentuk persegi dimodifikasi sedemikian rupa untuk tempat tinggal.

Bukan perkara mudah untuk bisa masuk ke ‘rumah’ mereka. Pintu masuknya hanya berupa lubang berukuran 50×25 cm dan dibuat di atas jembatan. Tidak bisa tergesa-tegas untuk masuk ke dalam rumahnya. Sebilah papan dimodifikasi dan dipasang engsel agar bisa berperan sebagai pintu masuk sekaligus penutup lubang.

Setelah berhasil masuk ke dalam rumahnya, terlihat papan triplek bekas yang digunakan sebagai sekat sekaligus tembok pembatas bilik tidur dan dapur ala kadarnya. Di dalam rumah tidak terlalu terang, hanya ada cahaya dari lampu bohlam 5 watt. Kipas angin berputar mengusir hawa panas yang terserap melalui dinding beton.

Lantunan musik dangdut mengalun memutar tembang-tembang andalan. Di dapurnya terlihat ada beberapa peralatan masak sederhana mulai dari kompor gas, rak piring sederhana, beberapa peralatan dapur, dan beberapa bungkus makanan ringan.

“Sebenarnya enggak mau tinggal di sini tapi mau gimana lagi. Pengen sih ngontrak tapi gimana, ekonomi lemah,” kata Tina.

Meski sehari-hari harus tidur diapit beton dan diiringi suara gemericik air, Tina mencoba menikmatinya. Apalagi tidak ada pungutan yang harus dibayar kecuali iuran listrik Rp 30.000 per bulan.

“Tidur di mana saja yang penting pikiran tenang. Kalau pikiran enggak tenang, tidur di mana saja juga enggak enak.”

Untuk keperluan MCK, warga ‘perumahan jembatan pipa PDAM’ menyulap ruang beton di bagian ujung jembatan sebagai kamar mandi. Air untuk keperluan MCK berasal dari lubang pipa PDAM yang sudah bocor. Tetangga Tina, Usup (50) menceritakan kisahnya hingga akhirnya terdampar di ‘perumahan’ itu. Dia mengaku ditawari salah satu temannya yang sama-sama berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Ternyata, jembatan pipa PDAM itu dikuasai wong kito galo atau warga Palembang.

Temannya itu sudah cukup lama tinggal di sana. Ternyata, penghuni pemukiman itu turun menurun dan sudah ada sejak 1980-an. Pemukiman ini sebagai tempat pelarian bagi mereka kaum urban yang tak mendapat tempat di ibu kota. “Untuk makan saja susah apalagi bayar kontrakan. Saya sudah sepuluh tahun di sini,” katanya.

Ketua RT05 Kelurahan Kota Bambu, Palmerah, Jakarta Barat, Hidayat mengakui keberadaan penghuni di bawah jembatan pipa PDAM itu sudah cukup lama. Meski sering dirazia petugas, penghuni itu terus berdatangan dan bahkan bergantian orang. “Mereka penghuni liar, tidak terdaftar di data kami,” kata Hidayat.

Soal aliran listrik yang mengalir ke tempat tinggal mereka, Hidayat mengaku tidak tahu sama sekali. Dia menduga, ada yang sengaja mengambilnya dari sekitar rel kereta api. “Kalau rumah warga sih agak jauh ya, tapi mungkin mereka ambil dari jaringan untuk kereta api,” tutup dia.

 

sumber : merdeka.com

IT RFB BDG